Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Dengarkan Glest Radio 774 AM - Tangerang ...::...Iklankan Produk dan Usaha Anda di www.glestradio.com atau di Glest Radio 774 AM ...::...Anda Sedang Mendengarkan Glest Radio Streaming, yang dipancarluaskan dari Graha Glest - Tangerang - Banten....::.....::..Mau Pasang iklan Di Glest Radio atau situs glestradio.com silahkan Klik Di Sini

Seluruh Anggota DPRD Kota Bekasi Nikmati Suap Fee 2 Persen

Glest Radio.com - Bandung.  Sidang perkara yang menimpa Mochtar Mohamad (M2) Walikota Bekasi non aktif, memasuki siding ke 7.  Dalam sidang hari Senin (06/6) di Pengadilan Tipikor Bandung menghadirkan saksi Agus Sofyan Kepala Dinas Binamarta, Rayendra Sukarmadji Kepala P2B, Dr.Muhamad Imam Direktur RSUD, Isnaeni Staff Sekda,Dinar Faisal Badar Kabid. TU dan Protokol Bagian Umum, Hendi Rohendi Kepala Cabang Bank Jabar di Bekasi, Mahmud Staff Bapeda dan Lilik Ketua Harian Badan Anggaran.

Dalam persidangan kali ini terungkap distribusi pembagian fee 2 persen dalam pengesahan APBD tahun 2010. Dalam kesaksian Agus Sofyan terungkap bahwa Tumai Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi menyambangi kediaman Agus. Menurut Agus dalam perbincangan di rumahnya Tumai menyampaikan beberapa keberatan dari unsur pimpinan dewan tentang angka pendistribusian dari fee 2 persen kepada masing-masing anggota.“Tumai mengatakan kepada Saya, bahwa unsur pimpinan berkeberatan dengan pendistribusian fee yang telah Pak Wali setujui,”  ungkap Agus.
Masih menurut Agus, bahwa distribusi yang telah wali setujui dari fee tersebut adalah untuk 25 anggota dewan diluar Badan Anggaran (Banggar) dan unsur pimpinan sebesar 50 Juta Rupiah per orang, namun dewan meminta 60 Juta per orang. Sedang untuk 20 anggota Badaan Anggaran sebesar 70 Juta Rupiah per orang dewan meminta 100 Juta Rupiah per orang. Dan untuk 4 unsur pimpinan dan 1 ketua Badan Anggaran sebesar 125 Juta Rupiah per orang, dewan meminta 150 Juta Rupiah per orang.
Fee yang berhasil dikumpulkan melalui Tjandra Utama Effendi sendiri mencapai 4,25 Milyar Rupiah. Untuk pendistribusian Agus sendiri mengaku tidak mengetahui, bahkan penyerahan dan lainnya pun dia mengaku tidak tahu.  ”Yang jelas, pesan dari Pak Tumai saya sampaikan langsung ke Pak Mochtar, dan beliau menjawab: Ohh begitu ya,” papar Agus di depan sidang.
Dalam kesaksian dari Rayendra Sukarmadji terungkap bahwa uang-uang yang di duga digunakan untuk menyuap anggota dewan itu berasal dari para pengusaha yang selama ini menjadi rekanan Pemerintah Kota Bekasi. ”Saya dipanggil oleh Walikota ke rumah dinas melalui ajudannya, di dalam rumah dinas itulah saya mendapat tugas untuk mencarikan uang dalam proses pengesahan APBD,” ungkap pria yang akrab di sapa Roy ini.
Roy menjelaskan bahwa hari itu wali meminta dia menyediakan uang sebesar 2 persen dari nilai kegiatan di APBD. Karena hari itu saya tak memegang uang sebesar itu maka saya meminta tolong Pak Agus Sofyan yang ketika itu memiliki jaringan kepada para pengusaha.Ketika Majelis Hakim menanyai pengusaha siapa saja yang dimintai tolong, Roy menjawab,”Saya lewat Pak Agus dikenalkan kepada Krisman Napitupulu, Boy, Dudung dan Haji Tono”.  Khusus untuk Krisman Napitupulu karena jumlahnya paling besar yaitu 650 Juta maka saya bersama Pak Agus menelpon dia di depan Pak Mochtar, saat itu juga Pak Mochtar berbicara via telepon dengan Krisman, jelas Roy lagi.
Krisman memberikan uang, hal tersebut dilakukan dengan janji akan diberikan proyek pembangunan kantor pusat Pemerintahan Kota Bekasi 10 lantai. Hal tersebut juga di iyakan oleh Agus Sofyan. Namun pada perjalanannya hal tersebut tidak terjadi, karena adanya devisit anggaran maka pembangunan kantor tersebut di tunda. Pada Dinas P2B sendiri anggaran yang tadinya diploting sebesar 139 Milyar dipangkas menjadi 76 Milyar.
Roy mengaku memberikan uang kepada Sekda sebesar 1 Milyar dari senilai 1,4 Milyar yang diminta. Sedang Agus Sofyan mengaku memberikan uang kepada Sekda sebesar 2,7 Milyar dengan cara diangsur. Sama dengan Roy, Agus juga mengaku mendapatkan uang tersebut dari para pengusaha yang biasa menjadi rekanan pada Dinas yang dia pimpin.Ketika Majelis Hakim menanyakan pengusaha siapa saja yang mintai berkontribusi, Agus mengaku tidak ingat namun dia menyatakan bahwa semuanya dia catat dalam Handphone merk Nokia yang telah di sita oleh KPK. Dalam catatan tersebut rinci, uang tersebut diperoleh dari siapa saja dan digunakan kemana, papar Agus.

 Saksi Lilik Haryoso Ketua Harian Badan Anggaran DPRD Kota Bekasi sendiri, batal dimintai keterangan di depan sidang karena waktu yang sudah tidak memungkinkan (Pukul 21.00 WIB-red). Sidang akan dilanjutan pada Hari Kamis (09/6) dengan agenda mendengarkan kesaksian Lilik Haryoso, namun pada kesempatan itu Lilik meminta ijin untuk tidak hadir pada persidangan esok karena ada tugas kepada dirinya sebagai Anggota Dewan. Ketua Majelis Hakim Azharyadi mengabulkan permohonan itu, namun dengan catatan pada sidang yang akan datang saksi wajib hadir.
Pada sidang kali ini Mochtar memakai kemeja kotak-kotak warna gelap, serta beberapa kali mengaku kurang sehat. Namun oleh dokter pendamping yang selalu turut dalam sidang, dalam keterangan yang diberikan di depan Majelis Hakim terdakwa masih sanggup untuk melanjutkan sidang. Di akhir sidang kembali Sirra Prayuna pengacara M2 mengajukan penangguhan penahanan untuk terdakwa, Majelis Hakim pun berjanji akan membahas mengenai diterima atau ditolak pengajuan penangguhan penahanan itu. [Ch]

0 komentar:

Posting Komentar

Glest Musik

GlestRadio-Food