Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Dengarkan Glest Radio 774 AM - Tangerang ...::...Iklankan Produk dan Usaha Anda di www.glestradio.com atau di Glest Radio 774 AM ...::...Anda Sedang Mendengarkan Glest Radio Streaming, yang dipancarluaskan dari Graha Glest - Tangerang - Banten....::.....::..Mau Pasang iklan Di Glest Radio atau situs glestradio.com silahkan Klik Di Sini

Dipojokkan Tjandra, M2 Sebut Pepen Koordinator

Saksi-Saksi Memberatkan Terdakwa
BANDUNG–Wali Kota Bekasi nonaktif Mochtar Mohamad (M2) benar-benar membuktikan ucapannya untuk menyeret pasangannya, Wakil Wali Kota Rahmat Effendi, dalam sejumlah kasus korupsi yang melilitnya. Merasa terpojok atas keterangan para saksi di persidangan Tipikor kemarin, M2 menyebut Pepen (panggilan Rahmat Effendi) ikut terlibat karena secara teknis berkoordinasi langsung dengan sekda Kota Bekasi saat itu, Tjandra Utama Effendi.

Hal itu diungkap Mochtar usai mendengarkan keterangan saksi-saksi memberatkan yang dihadirkan JPU KPK. Beberapa saksi yang dihadirkan JPU antara lain, mantan kabag umum Gunandar (pensiun), staf bagian umum Suharni, Sekretaris Pribadi Agus Yulianto, Deny, dan Ruruh (office boy), Dirut RSUD Kota Muhamad Iman, mantan sekda Tjandra Utama Effendi, Kadis Bimarta Agus Sofyan, Kadis P2B Rayendra Sukarmadji dan staf sekda Isnaini.
”Saya sudah sudah mendelegasikan ke Wakil Wali Kota,” kata M2 membela diri usai mendengarkan keterangan para saksi.
Kuasa hukum Mochtar, Sirra Prayuna menambahkan kliennya saat pembahasan secara tekhnis sudah mendelegasikannya kepada Rahmat Effendi yang saat itu dilakukan bersama Tjandra Utama. ”Saat itu yang banyak koordinasi secara teknis adalah wakil wali kota,” tutur Sirra.
Dalam persidangan yang dimulai pukul 10.30 itu, sejumlah saksi memberatkan menyebut adanya keterlibatan Wali Kota Bekasi untuk pemenangan Adipura 2010, mendapatkan audit BPK dengan laporan Wajar Tanpa Pengecualiaan (WTP), dan penyuapan anggota DPRD untuk pengesahan APBD 2010, serta pinjaman kredit Multiguna Wali Kota ke Bank Jabar yang dibayar melalui sisa anggaran makan minum di APBD 2009.
Terungkap pula anggaran makan dan minum (mamin) Wali Kota Bekasi tahun 2009 hanya terserap pada 9 kegiatan wali kota. Sedangkan yang masuk dalam laporan administrasi mencapai 24 kegiatan dengan anggaran mencapai Rp639 jutaan. ’’Saya hanya mendapat perintah dari pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) untuk mencatatkan semua kegiatan yang dilakukan oleh wali kota,” kata saksi dari bagian umum Pemkot Bekasi, Suharni.
Selain itu, tambah Suharni, PPTK sebagai atasan dirinya meminta agar diadakan 15 “bendera” perusahaan rekanan jasa katering untuk digunakan sebagai laporan administrasi yang seolah-olah 15 kegiatan audensi wali kota dengan tokoh masyarakat telah dilaksanakan sepanjang tahun 2009. ”Semua perintah PPTK agar menyisihkan anggaran,” katanya.
Sehingga sisa anggaran yang disisakan itu untuk membayar hutang pribadi wali kota kepada Bank Jabar. ’’Sejak awal tahun Januari hingga April, kegiatan dinas wali kota tentang audensi dengan tokoh masyarakat yang sudah dianggarkan dalam APBD 2009, terpaksa memakai uang pribadi milik wali kota karena realisasi anggaran mamin baru disahkan pada akhir Maret 2009,” paparnya.
Saksi lainnya, Gunandar mengaku tidak mengetahui jumlah kegiatan audensi wali kota dan hanya mendapatkan laporan dari bawahannya. ’’Semua kegiatan wali kota sudah masuk dalam RAK yang disusun dalam APBD. Termasuk perubahan anggaran mamin pada September 2009, saya tidak tahu,” ucapnya.
Sementara, kesaksian mantan sekda Tjandra Utama Effendi terkait ’bantuan langsung tunai’ (BLT) untuk pengesahan APBD 2010 mengakui, saat badan anggaran (Banang) DPRD Kota Bekasi berada di sekretariat Tim Pembahasan Anggaran Daerah (TPAD) di Villa 200, menyebutkan penyerahan BLT sebesar 2 persen kepada dewan atas sepengetahuan M2.
”Penghitungan BLT itu dengan asumsi 2 persen dari total biaya kegiatan/SKPD dikurangi 3 persen hasilnya dikalikan 2 persen. Muncul lah angka Rp4,25 miliar yang berasal dari saweran SKPD dan kepala dinas. Semuanya atas sepengetahuan wali kota dan sudah saya laporkan kepadanya,’’ terang Tjandra.
JPU KPK, Ketut Sumadena mengatakan semua saksi yang dihadirkan memang memberatkan terdakwa serta sebagaimana yang ada dalam BAP maupun dakwaan. ”Saksi-saksi ini memang memberatkan terdakwa. Besok kita hadirkan kembali saksi baru yang memberatkan maupun saksi yang saat ini belum memberikan kesaksiannya,” jelas Ketut.
Ketua Majelis Hakim PN Tipikor Azharyadi menyatakan sidang ditunda hingga pekan depan, yakni Senin (6/6) dengan agenda masih keterangan saksi memberatkan dari KPK. ”Sidang kita lanjutkan minggu depan, dengan agenda yang sama,” tandasnya.
Sementara itu, selama persidangan M2 sempat mengalami sesak nafas pada jantung sebelah kiri setelah beberapa jam duduk menghadiri sidang. Karena kelelahan, penasehat hukum terdakwa memohon kepada majelis hakim untuk memeriksa terdakwa. Dokter RS MH Thamrin, dr Gleen, yang hadir di persidangan pun memeriksa terdakwa setelah mendapat persetujuan majelis hakim. (dul)

0 komentar:

Posting Komentar

Glest Musik

GlestRadio-Food